Postingan

Harta

Cukup sering kita mendengar "harta tidak akan dibawa mati". Kalimat yang seolah mengingatkan kita untuk tidak terikat akan harta duniawi yang bersifat materil. Namun pada pandangan lain, bisa saja kalimat tersebut dimaknai sebagai "harta tidak akan dibawa mati, habiskan sekarang!". Kalimat itu tidak salah, namun rasanya hanya kurang lengkap, atau... kurang tepat? Pemaknaan setelahnya dari kalimat itu bisa membuat berbagai sisi pandangan. "Harta tidak akan dibawa mati, habiskan sekarang!"; habiskannya dengan cara apa? Bisa berfoya-foya, atau bisa juga diwakafkan untuk pembangunan perpustakaan misalnya. Jika yang dipilih adalah berfoya-foya, maka, seperti apakah makna kalimat tersebut sekarang? Melengkapi kalimat itu setelahnya diserahkan pada masing-masing. Namun, tadi baru saja saya terpikir akan kelanjutan dari kalimat tersebut, yang entah dari mana pikiran tersebut bisa muncul. Sehingga, kalimat yang ada di benak saya sekarang adalah "harta  akan di...

Memetik Makna

Sebetulnya kejadiannya terjadi beberapa waktu yang lalu, namun saya baru enak sekarang menceritakannya. Singkatnya cerita, saya membeli kamera, namun uang yang saya bayarkan tidak sebanding dengan apa yang didapat. Lebih nyelekitnya lagi: beli barang yang nampak bekas dengan harga dua kali lipat harga baru. Entah apa yang merasuki saya waktu itu, rasa-rasanya tak ada kendali untuk batal membeli barang itu. Walau hati merasakan tidak enak dan berusaha mengerem, tetap saja transaksi berjalan. Saya yang biasanya kritikal dan menunda-nunda untuk menimbang dalam membeli barang, entah kenapa begitu saja membeli kamera itu. Saya sudah tak mau menceritakan kronologi ceritanya, namun saya sempat meninggalkan jejak di kolom komentar salah satu posting blog tentang modus penipuan kamera. Monggo cari saja di Google; semoga jadi database yang mencegah korban selanjutnya. Kembali ke saat itu, perasaan kesal, marah, kecewa, lelah, sedih, bercampur aduk. Saya bercerita dengan ibu dan ibu saya sepakat ...

Silaturahmi

Tidak terasa sudah empat tahun kita lalui semenjak kasus pertama COVID 2019 yang menjadi awal mula pandemi di Indonesia. Situasi kala itu, setidaknya bagiku, mencekam. Hampir setiap hari selalu ada yang meninggal di lingkungan tempatku tinggal. Berita kematian dan grafik-grafik statistik penularan COVID menjadi headline dalam berita. PSBB diberlakukan dan Bandung seperti kota mati (walaupun saya tidak keluar sampai dengan Lebaran 2020 hanya untuk sekedar keliling kota menghindari keramaian). Interaksi sosial hanya terbatas pada online, bertatap muka melalui telepon dan teks, serta sesekali dengan video call.  Tahun 2021 malah lebih mencekam dengan adanya Delta, dan Lebaran pun tidak kemana-mana. Kasus kematian meningkat. Dan sedikit mengenang, tahun 2021 adalah tahun kesedihan dimana aku kehilangan salah satu orang yang memberikan begitu banyak pengaruh positif bagi kehidupanku; yang tanpanya mungkin aku akan tetap menjadi orang yang jauh lebih menyebalkan. Al-Fatihah untuk beliau,...

(m)IRC

Gambar
Anak warnet era 2000-an hampir pasti familiar dengan "ASL please". Sebuah cara unik untuk berkenalan dengan orang melalui mIRC. mIRC sendiri adalah nama software yang poluler digunakan sebagai client untuk IRC di warnet-warnet. Sudah belasan tahun lalu terakhir menggunakan IRC. Sempat iseng ingin coba lagi main IRC. Dan ternyata dal.net masih aktif. Dulu, dal.net adalah server yang paling sering saya gunakan di IRC. Banyak room yang masih aktif, dan ternyata room #jakarta (ya, hashtag jika di dunia IRC adalah room, jika dipikir-pikir fungsinya serupa dengan medsos modern) adalah room dengan jumlah people paling banyak. Dan, room #bandung masih ada. Sudah belasan tahun lamanya... Saya coba masuk ke dalamnya. Sepi sebetulnya, chat-chat diatas kelihatannya dari bot. Dulu, cukup nangkring di room dan tak lama ada saja yang nge-chat "ASL please". Coba nangkring saja dulu ah. Kalau gak ada, coba iseng chat yang ada di room. He he he.

Distro Hopping (1)

Sebetulnya, saya sudah coba-coba dengan Linux sejak (sekitar... lupa) tahun 2008 di waktu sekolah. Vakum di waktu awal kuliah, lalu kembali mencoba lagi tahun 2017 semasa kuliah (yang jurusannya sangat jauh dengan Informatika). Awalnya hanya niat iseng-iseng saja mencoba yang berbeda. Namun, pada 2018 vakum karena saat itu sedang butuh yang benar-benar "standar" dan untuk oprek-oprek masih sangat minim (dan berisiko, lagi nyekripsi gitu). Tahun 2019 kembali bercokol dengan Linux untuk mini project pertama, yaitu memasang Samba Server, Moodle Server, dan DHCP server di salah satu sekolah di Bandung. Ingatan saya mungkin miss; menulis sambil mencoba kembali mengingat. Waktu pertama kali mencoba Linux, saya mencoba Ubuntu. Pertama bertemu Ubuntu dari DVD salah satu majalah komputer (Hmm... PC Media, Chip, InfoLinux, atau apa ya? Btw, waktu masih jaman majalah seru loh), saya coba install dual-boot dengan Windows Vista di laptop. Pengalaman baru itu sebetulnya membuat pusing kare...

Alone - Shimokawa Mikuni

Gambar
Salah satu hobi saya adalah menerjemahkan lagu-lagu, terutama yang "menyentuh" perasaan. Baik perasaan ceria, haru, maupun jatuh cinta. Karena, rasa-rasa yang berwarna bagai pelangilah yang memberikan hidup bagi kehidupan; seperti padang sahara yang dianugerahi oleh hujan. Singkatnya, lagu ini adalah lagu yang saya temukan dari harddisk backup laptop saya.  Awalnya, saya hanya mendengarnya selewat saja. Namun, saya merasakan sesuatu yang berbeda dari lagu ini, dan mendengarkannya lagi dengan seksama. Dan, ya, lagu ini mewakili salah satu "serpihan" perasaan yang sedang dirasa. 乾いた風が吹く 街は凍えている Angin kering berhembus, Kota terasa dingin membeku いくつの季節が そっと音もなく 過ぎ去ったのだろう Sudah berapa musimkah kulewati, Yang berlalu dengan senyapnya tanpa bersuara? 行き交う人は皆 重い荷物 背負って 遠くに揺れる かげろうの中に 明日を見つける Mereka yang datang lalu pergi, semua memikul beban berat pada bahunya Mencari esok hari, Dalam fatamorgana yang berayun この手をこぼれ落ちる 砂のような感情 あの時胸に刺さった 言葉がふいに疼くけど… Rasa yang b...

KY

Pernah menghadapi orang yang berbicara "tidak pada tempatnya"? Orang Jepang punya istilah KY yang sebetulnya singkatan dari 空気読めない (Kuuki Yomenai). Secara literal, artinya “tidak bisa membaca udara“. Terbayang? Seperti orang yang tertawa di tengah-tengah orang yang bersedih. Atau, seperti orang yang bercanda di tengah suasana serius, dengan candaan yang bisa membuat orang marah di konteks yang salah. Masih ingat satu sesi waktu dahulu saya kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi (dan saya lupa mata kuliahnya. Komunikasi Lintas Budaya gitu?). Ada dua cara berkomunikasi secara kultural, yaitu Low Context Culture dan High Context Culture. Gampangnya, Low Context Culture adalah kultur berkomunikasi yang blak-blakan dan tidak memerhatikan konteks. Sedangkan High Context Culture adalah kultur berkomunikasi yang lebih “santun”, dan kepekaan terhadap konteks adalah wajib. Pada umumnya, komunikasi di Indonesia bersifat High Context, serupa seperti di Jepang; walaupun tidak menutup kemu...